Norsan: Luasan Karhutla Kalbar Terus Menyusut, Tinggal 200 Hektare Lebih

Foto. Gubernur Kalbar, Ria Norsan mendampingi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto saat kunjungan ke lokasi karhutla di Kubu Raya. Borneobarat.com/BB

Kubu Raya, Borneobarat.com, – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat menunjukkan perkembangan positif. Luasan lahan yang terdampak kebakaran serta jumlah titik api dilaporkan terus menurun berkat upaya pemadaman yang dilakukan secara terpadu oleh berbagai pihak.

Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengatakan, dari sekitar 38.000 hektare lahan yang sebelumnya terdampak kebakaran, saat ini tersisa sekitar 200 hektare lebih yang masih dalam proses penanganan.

Selain itu, jumlah titik api juga mengalami penurunan signifikan. Pada puncak kejadian, jumlah hotspot di Kalimantan Barat sempat mencapai lebih dari 2.000 titik. Kini, sekitar 50 titik api masih terus dipantau dan ditangani oleh petugas gabungan.

Hal tersebut disampaikan Ria Norsan saat mendampingi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto melakukan patroli dan meninjau lokasi kebakaran hutan dan lahan di Dusun Sukadamai, Desa Rasau Jaya Tiga, Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Sabtu (5/9/2026).

“Dari sekitar 38.000 hektare yang terbakar, sekarang tinggal sekitar 200 hektare lebih lagi yang masih ditangani. Titik api juga sudah mulai menurun dari sekitar 2.000 titik, kemudian menjadi 100 lebih, dan sekarang tinggal sekitar 50 titik api,” ujar Norsan.

Menurutnya, penurunan tersebut tidak terlepas dari kerja sama seluruh unsur yang tergabung dalam Satuan Tugas Karhutla Kalimantan Barat. Personel TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, pemerintah daerah, hingga pemerintah pusat terlibat dalam upaya pemadaman dan pengendalian kebakaran.

Kondisi cuaca yang mulai diwarnai hujan dalam beberapa hari terakhir juga turut membantu proses pemadaman di sejumlah wilayah.

“Alhamdulillah seluruh stakeholder, TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD daerah maupun pusat berkolaborasi semuanya turun untuk memadamkan api,” katanya.

Atas nama Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dan masyarakat, Norsan menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat atas dukungan yang diberikan dalam penanganan karhutla di daerah tersebut.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah pusat, Bapak Presiden, Menteri Dalam Negeri, dan Kepala BNPB yang sudah hadir langsung melihat situasi dan kondisi kebakaran hutan di Kalimantan Barat,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala BNPB Suharyanto menilai, meskipun jumlah titik api dan luasan kebakaran terus mengalami penurunan, proses pemadaman di kawasan lahan gambut masih menjadi tantangan tersendiri.

Menurutnya, api di lahan gambut tidak selalu terlihat di permukaan. Bara dapat terus menyala di bawah tanah dan menimbulkan asap, sehingga proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama dan harus dilakukan secara menyeluruh.

Suharyanto mencontohkan kebakaran yang terjadi di Dusun Sukadamai. Meski luas lahan yang terbakar hanya sekitar tujuh hektare, proses pemadaman membutuhkan waktu berhari-hari karena lokasi tersebut berada di kawasan gambut.

“Sudah enam hari ini terbakar. Luasnya tidak banyak, tujuh hektare. Tetapi karena lahan gambut, selama enam hari itu baru berhasil enam hektare. Berarti satu hari hanya satu hektare. Saking sulitnya dipadamkan,” kata Suharyanto.

Ia mengatakan, tantangan yang dihadapi petugas saat ini bukan hanya memadamkan api yang terlihat di permukaan, tetapi juga memastikan bara di dalam lapisan tanah benar-benar padam.

“Sekarang yang jadi masalah bukan lagi apinya. Di banyak tempat apinya sudah tidak terlihat, tetapi asapnya masih ada. Karena lahan gambut, harus dipastikan benar-benar padam,” ujarnya.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, tim gabungan menerapkan sejumlah metode pemadaman, termasuk menyuntikkan air ke dalam lapisan gambut menggunakan pipa khusus. Cara tersebut dilakukan agar air dapat menjangkau titik bara yang berada di bawah permukaan tanah.

Suharyanto juga mengapresiasi kerja sama seluruh unsur Satgas Karhutla Kalimantan Barat yang dinilainya berperan besar dalam menekan penyebaran kebakaran.

“Saya bangga melihat satgas darat di tempat ini. Pak Gubernur turun langsung, Pak Pangdam turun langsung. Ada Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, BPBD, Dinas Kehutanan, KPH, TNI dan Polri. Semua bahu-membahu melakukan pemadaman,” katanya.

Meski kondisi karhutla di Kalimantan Barat terus membaik, pemerintah memastikan operasi pemadaman dan patroli tetap dilakukan hingga seluruh titik api benar-benar padam. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah kebakaran kembali meluas, terutama di kawasan gambut yang masih berpotensi menyimpan bara di bawah permukaan tanah.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan