PONTIANAK, – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Barat merilis perkembangan sejumlah indikator strategis ekonomi daerah, mulai dari inflasi, Nilai Tukar Petani (NTP), ekspor dan impor, pariwisata, hingga transportasi.

Kepala BPS Provinsi Kalimantan Barat, Muh Saichudin, menyampaikan data tersebut dalam konferensi pers statistik di Kantor BPS Kalbar, Rabu (1/7/2026).

Muh Saichudin mengatakan, inflasi tahunan (year-on-year) Kalimantan Barat pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,28 persen. Dari seluruh daerah yang menjadi cakupan penghitungan inflasi, Kabupaten Sintang mencatat inflasi tertinggi, yakni 3,71 persen.

” Inflasi year-on-year Provinsi Kalimantan Barat pada Juni 2026 sebesar 3,28 persen, sedangkan inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Sintang sebesar 3,71 persen,” ujarnya.

Di sektor pertanian, BPS mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Kalimantan Barat pada Juni 2026 sebesar 176,87 poin, atau turun 0,85 persen dibandingkan Mei 2026. Sementara itu, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) tercatat 181,28 poin, turun 1,43 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Menurut Muh Saichudin, indikator tersebut menjadi salah satu acuan untuk mengukur kemampuan tukar hasil pertanian terhadap barang konsumsi rumah tangga serta biaya produksi yang harus dikeluarkan petani.

” Indikator tersebut menjadi salah satu acuan untuk melihat kemampuan tukar hasil pertanian terhadap barang konsumsi rumah tangga maupun biaya produksi yang harus dikeluarkan petani,” ungkapnya.

Pada sektor perdagangan luar negeri, nilai ekspor Kalimantan Barat pada Mei 2026 tercatat sebesar US$160,68 juta atau sekitar Rp2,88 triliun (dengan asumsi kurs Rp17.927 per dolar AS). Nilai tersebut turun 19,16 persen dibandingkan April 2026.

Sementara itu, nilai impor mencapai US$99,52 juta atau sekitar Rp1,78 triliun, meningkat 19,10 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Meski demikian, Kalimantan Barat masih mencatat surplus neraca perdagangan sebesar US$61,16 juta atau sekitar Rp1,09 triliun. Namun, nilai surplus tersebut menurun 46,91 persen dibandingkan April 2026.

” Nilai impor mencapai US$99,52 juta atau sekitar Rp1,78 triliun, meningkat 19,10 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Meski demikian, Kalimantan Barat masih mencatat surplus neraca perdagangan sebesar US$61,16 juta atau sekitar Rp1,09 triliun. Namun, nilai surplus tersebut turun 46,91 persen dibandingkan April 2026,” jelasnya.

Di sektor pariwisata, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Kalimantan Barat pada Mei 2026 mencapai 56,26 persen. Angka tersebut meningkat 5,83 poin persentase dibandingkan Mei 2025 (year-on-year), tetapi turun 2,50 poin persentase dibandingkan April 2026 (month-to-month).

Sementara itu, sektor transportasi menunjukkan perlambatan mobilitas penumpang. Jumlah penumpang angkutan udara domestik yang datang ke Kalimantan Barat pada Mei 2026 tercatat 100.778 orang, turun 22,75 persen dibandingkan April 2026.

” Sektor transportasi menunjukkan perlambatan mobilitas penumpang. Jumlah penumpang angkutan udara domestik yang datang ke Kalimantan Barat pada Mei 2026 tercatat 100.778 orang, turun 22,75 persen dibandingkan April 2026,” terangnya.

Penurunan yang lebih tajam terjadi pada angkutan laut domestik. Jumlah penumpang yang datang melalui pelabuhan di Kalimantan Barat hanya 8.252 orang, atau merosot 66,95 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Muh Saichudin menegaskan, berbagai indikator yang dirilis BPS setiap bulan menjadi gambaran kondisi ekonomi Kalimantan Barat dan dapat dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan pembangunan maupun pengambilan kebijakan.

” Data statistik yang kami sajikan diharapkan menjadi rujukan bagi pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat dalam melihat perkembangan ekonomi Kalimantan Barat secara objektif dan berbasis data,” pungkasnya.

Iklan