Hotspot Karhutla Kalbar Menurun, Norsan Ingatkan Ancaman Lonjakan Titik Api

Foto. Gubernur Kalbar, Ria Norsan saat meninjau lokasi Karhutla di Skunder C, Rasau Jaya, Kubu Raya. Borneobarat.com/BB

Kubu Raya, Borneobarat.com, – Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat terus mengintensifkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah. Meski jumlah titik panas menunjukkan penurunan, kondisi di lapangan dinilai masih dinamis dan berpotensi kembali meningkat dalam waktu singkat.

Hingga awal September 2026, luas area yang terdampak kebakaran di Kalimantan Barat mencapai sekitar 38.000 hektare. Area tersebut meliputi kawasan hutan, areal penggunaan lain (APL), lahan pertanian hingga hutan produksi.

Gubernur Kalbar Ria Norsan mengatakan jumlah titik api saat ini mengalami penurunan signifikan dibandingkan sebelumnya yang sempat mencapai lebih dari 2.000 titik.

“Titik api semakin menurun. Dari yang sebelumnya lebih dari 2.000 titik, sekarang sekitar 157 titik,” kata Norsan pada Selasa (02/9/2026) usai meninjau lokasi kahutla di Skunder C, Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya.

Namun, lanjut Norsan, penurunan tersebut belum menjadi alasan untuk mengendurkan penanganan. Norsan mengingatkan jumlah titik api sangat dipengaruhi kondisi cuaca, angin, serta aktivitas pembakaran lahan oleh masyarakat.

“Dalam waktu dua jam saja titik api bisa naik sampai 1.000 titik. Selain faktor angin, banyaknya masyarakat yang masih membakar lahan juga menjadi penyebab munculnya titik api baru,” ujarnya.

Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Kalbar Ridwan mengatakan dari sekitar 38.000 hektare area yang terdampak kebakaran, lebih dari separuh telah mendapatkan penanganan pemadaman.

“Kalau dari 38.000 hektare itu sudah lebih dari separuh yang ditangani. Jika suatu lokasi sudah bisa didata sebagai area terbakar, berarti telah ada penanganan yang dilakukan di lapangan,” jelas Ridwan.

Untuk mempercepat penanganan, Pemprov Kalbar mengoptimalkan operasi pemadaman melalui jalur darat maupun udara. Operasi water bombing dan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) terus diupayakan sesuai kondisi di lapangan.

Namun, pelaksanaan TMC masih bergantung pada keberadaan awan potensial yang dapat digunakan sebagai media penyemaian garam atau NaCl.

“OMC atau TMC tergantung pada bibit awan. Kalau tidak ada awan, tidak bisa dilakukan penyemaian. Berdasarkan perkiraan BMKG, mudah-mudahan pada 3 hingga 9 September ada peluang hujan,” kata Norsan.

Di tengah upaya tersebut, Kabupaten Ketapang menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian serius pemerintah. Kepulan asap yang sangat tebal di sekitar lokasi kebakaran sempat menghambat operasi water bombing.

“Yang paling parah sekarang titik api di Ketapang. Kemarin water bombing tidak bisa dilakukan karena asap sangat pekat. Mudah-mudahan hari ini sudah bisa dilakukan,” ujarnya.

Norsan menegaskan penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh unsur, mulai dari pemerintah, TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni hingga masyarakat.

Ia juga kembali mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan, terutama selama musim kemarau. Menurutnya, pengendalian karhutla tidak cukup hanya mengandalkan upaya pemadaman, tetapi juga membutuhkan pencegahan agar tidak muncul titik api baru.

“Semua bergerak bersama-sama untuk mengatasi karhutla yang masih terjadi di berbagai wilayah Kalbar,” pungkasnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan