Krisis Air Bersih Melanda 5 Desa di Kayong Utara, Warga Terpaksa Gunakan Air Parit

Foto. Masyarakat yang terpaksa menggunakan air parit untuk kebutuhan sehari-hari akibat krisis melanda. Borneobarat.com/istimewa

Kayong Utara, Borneobarat.com,  – Kemarau panjang mulai berdampak serius terhadap ketersediaan air bersih di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat (Kalbar). Sedikitnya lima desa di Kecamatan Pulau Maya kini mengalami krisis air bersih akibat sumur warga mengering dan cadangan air hujan semakin menipis.

Kondisi tersebut membuat sebagian warga harus mencari sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan, warga di Desa Kamboje dan Dusun Kecil terpaksa menggunakan air parit untuk mandi dan kebutuhan rumah tangga.

Air parit yang digunakan warga diketahui bercampur lumpur serta terdampak jerebu asap sisa kebakaran lahan. Sementara untuk kebutuhan minum, masyarakat selama ini mengandalkan air hujan yang ditampung.

Namun, persediaan air hujan tersebut kini mulai habis seiring kemarau yang berlangsung cukup panjang.

Ujang, warga Desa Kamboje, mengatakan kondisi tersebut membuat masyarakat sangat membutuhkan bantuan pasokan air bersih dari pemerintah.

“ Kalau sekarang ini, kami sangat perlu sekali air bersih. Sumur sudah kering. Air hujan yang dipakai selama musim panas ini juga sudah habis,” kata Ujang, Jumat (21/8/2026).

Karena tidak memiliki sumber air lain, warga akhirnya terpaksa memanfaatkan air parit.

“ Terpaksa air parit yang bercampur lumpur dan debu asap bekas kebakaran dipakai untuk sehari-hari,” sambungnya.

Ujang berharap Pemerintah Kabupaten Kayong Utara segera mengirimkan bantuan air bersih ke desa-desa yang terdampak. Selain bantuan darurat, dia juga meminta pemerintah mempertimbangkan pembangunan sumur bor sebagai solusi jangka panjang menghadapi persoalan kekeringan.

Dia juga berharap perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah tersebut dapat ikut membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.

Diketahui bahwa, krisis air bersih dilaporkan terjadi di sedikitnya lima desa di Kecamatan Pulau Maya. Kelima wilayah tersebut yakni Desa Dusun Besar, Dusun Kecil, Kamboje, Satai Lestari dan Tanjung Satai.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Kayong Utara Alias Syahroni mengatakan, kekeringan saat ini dirasakan hampir di seluruh wilayah Kayong Utara. Namun, kondisi di Kecamatan Pulau Maya dinilai menjadi salah satu yang paling parah.

“ Desa di Kecamatan Pulau Maya merupakan wilayah yang terparah,” kata Alias.

Menurut Alias, sumber air utama warga berupa sumur telah banyak yang mengering. Di sisi lain, cadangan air hujan yang ditampung masyarakat juga semakin menipis sehingga kebutuhan air bersih menjadi semakin mendesak.

Dia meminta Pemkab Kayong Utara segera mengambil langkah untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, khususnya warga di Pulau Maya.

“ Pendistribusian air bersih sangat urgen buat masyarakat Pulau Maya saat ini. Saya juga berharap pihak swasta ambil bagian,” ujarnya.

Ia juga menyebut bantuan dari pihak swasta sebelumnya belum seluruhnya dapat menjangkau masyarakat di Pulau Maya. Salah satu kendalanya adalah kondisi geografis wilayah tersebut yang memiliki keterbatasan akses transportasi darat.

“ Memang Kecamatan Pulau Maya ini sulit akses jalur darat,” jelasnya.

Karena itu, pemerintah daerah dinilai perlu membangun kolaborasi dengan perusahaan maupun investor yang beroperasi di kawasan tersebut agar distribusi air bersih dapat dilakukan lebih cepat dan menjangkau warga yang membutuhkan.

“ Sehingga nanti dalam pendistribusian bantuan air bersih, Pemda berkolaborasi dengan pihak swasta, terutama investor besar di kawasan tersebut,” pungkas Alias.

Di tengah kondisi kekeringan yang masih berlangsung, kebutuhan air bersih menjadi semakin mendesak bagi warga di lima desa tersebut. Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah penanganan agar masyarakat tidak terus bergantung pada air parit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan